Rabu, 04 Maret 2015

(cerpen) Starry Land


Tittle : Starry Land
Author : Apriani K
Genre : drama , angst , sad 


Kejauhan, seorang pria terlihat menggeletakkan tubuhnya di tengah hamparan ilalang. Mata coklat eboninya menatap kosong langit senja diatasnya. Angin yang berhembus dingin menusuk tulang tak digubris olehnya. Kemeja tipis kantor yang dipakai menandakan ia baru pulang dari pekerjaannya. nyaanyian jangkrik mulai nyaring bertanda malam akan datang. Pria itupun berdiri dan pergi dari tempatnya.
                Sosok pria itu bisa dibilang tampan dan dapat membuat kaum hawa menggilainya. Tak heran kalau dia menjadi bahan gosip di dunia kerjanya.  Ditambah prestasi karirnya dan latar belakang kedua orangtuanya dia mungkin mampu membuat wanita manapun dengan mudah menjadi kekasihnya.  Tapi air mukanya  tidak pernah  memperlihatkan akan ketertarikan pada lawan jenis setelah suatu kejadian.
Sebut saja pria itu dengan nama Markus. Dia seorang general manager suatu perusahaan fashion ternama di negeri ini. Keahlian dalam dunia perbisnisan di umurnya yang masih dua puluh lima tahun membuatnya mendapat banyak pujian. Dengan wajah bak seorang pangeran tak ayal membuatnya menjadi popular diantara gadis-gadis pula.
Sebulan sudah ia Nampak mengunjungi suatu padang rumput yang tak jauh dari hirup pikuk kota tempatnya hidup. Disana ia hanya terlihat datang, melamun, dan pergi. Entah apa yang membuatnya Nampak seperti orang putus asa disana dengan memandangi langit senja. Tanpa disadari ,sepasang manik bola mata memperhatikannya dari kejauhan.

***


Seperti kebiasaannya akhir-akhir ini setelah bekerja mark menghampiri padang tempat dia biasa menghabiskan waktu senja. Dia memacu Ferrari hitamnya di tol menuju tempat terdamai yang pernah ia temukan.
Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika ia sampai telah duduk sesososk wanita dengan dress putih di padang itu. Sadar akan ada pengunjung lain yang datang,perempuan itu menoleh.  Perempuan itu mengembangkan senyuman dan melambaikan tangan bertanda menyuruh seseorang untuk mendekat. Mark melihat sekeliling, dan hanya dialah manusia yang terlihat. Dengan langkah ragu mark mendekati wanita itu.
“duduklah kalau kau memang ingin” sambil menepuk  tempat disebelahnya.
                Tanpa mengucapkan sepatah kata mark langsung duduk disamping perempuan itu. Keduanya tidak saling bicara karena mereka terlihat sibuk dengan pikirannya yang melayang jauh dari tempat mereka.
                Mark mempertikan perempuan itu, tubuhnya mungil dengan kulit putih pucat seperti jarang terkena sinar matahari. Rambut hitam wanita itu dikucir kesamping dengan asal,dilengkapi poni yang terlihat baru saja dipotong wanita itu menambah pesonanya dimata marks . tataapan kosong dari mata hitam pekat wanita itu menggambarkan suatu kepolosan pada dirinya. Tanpa sadar mark terus menatap wanita itu yang hanya diam, diam menatap langit .
                Merasa tak begitu canggung, mark mulai berbaring di sebelah wanita itu.  Hening, bukan diam karna canggung melainkan hening yang benar-benar mereka nikmati . Mereka hanya diam menatap angkasa sampai tak merasakan matahari sebentar lagi akan berada pada titik baliknya.
“kau tahu , disini aku berdoa untuk dapat bertemu dengan seorang pangeran yang menaiki kuda putih. Aku berharap dia akan menghampiriku dan mengajakku untuk datang ke pesta dansa kerajaan. Memang itu terdengar kekanakan, tapi yang aku inginkan hanya hidup bahagia dengan seseorang.” Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan isi pikirannya pada mark.
Hening…
“ah maaf , aku tak bermaksud mengoceh.” Kata perempuan itu dengan muka panic karena mark tak membalas.
“hemm, tak apa.” Berhenti sejenak “kenapa semua orang sangat menginginkan memiliki kekasih?” Tanya mark tanpa sadar masih memandang langit senja.
“karena mereka tak ingin menyia-nyiakan waktu yang diberi tuhan untuk dirinya sendiri” balas perempuan itu. Perempuan itu lalu berdiri. “maaf kalau mengganggu waktu jam santai dirimu disini.” Wanita itu berdiri, dan hendak pergi sebelum sebuah tangan menahannya.
“siapa namamu nona?”Tanya mark langsung pada tujuannya.
“rosella,rosse. Dan?” sambil member isyarat mata  pada mark.
“markus. “ mark tak hentinya memandangi muka rose. Fikirnya melayang jauh dengan fantasi-fantasi yang lama telah ia lupakan. Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama ?
“hemm, sebaiknya aku pulang sekarang. Kalau mau mampir kau boleh ke rumah seberang sana” kata rose sambil menunjuk sebuah pemukiman diseberang padang itu. 
***
Dua minggu sudah aku telah mengenal wanita itu. Meski pertemuan kami masih singkat tapi aku bisa mendapatkan gambaran dari jati dirinya. Rose, begitu aku memanggil namanya . seperti namanya, dia memang tak begitu ramah seperti duri tapi dia begitu indah untuk kupandang. Dari awal aku mengenalnya, aku sudah mengira bahwa dia memang kurasa berbeda dengan wanita lainnya.matanya tidak menggambarkan akan nafsu kotor selayaknya wanita lain.
 Wanita dan uang. Keduanya memang suatu kesatuan bila kau ingin mendapatkannya. Tak ada uang, tak ada kasih sayang. Mungkin itu prinsip wanita yang sering kuperhatikan disekelilingku. Orang-orang yang kusayangipun mereka sama saja. Mulai dari mantanku,dia mengatakan tulus mencintaiku tapi itu hanya topeng ular bunganya seperti ibu tiriku yang mendekati ayahku hanya karena uang. Pandanganku berubah setelah aku bertemu dengan rose, wanita yang tak bisa menyembunyikan kepolosannya kepada orang lain. Kehadirannya di setiap soreku mengingatkanku apabila tak semua wanita memiliki sifat buruk.
Rencananya hari ini aku akan mengajaknya untuk diner di café dekat dengan tempat kami bertemu. Bayangan akan dirinya yang menungguku datang untuk menjemputnya terbesit dipikiranku. Rambut panjangnya yang terurai terhempas angin, melambai girang karena bebas dari belenggu ikatan. Aku tak kuasa untuk mengembangkan senyuman ketika membayangkannya.
“anda sering senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini direktur. Apa ada yang membuat anda bahagia sekali?” tanya si sekertaris utamaku yang selalu setia mendampingiku bekerja.
“hemm” aku hanya membalas senyum padanya. Kulihat mukanya Nampak akan meleleh melihat senyumanku ini.
“ahh, anda mesti akan  ke padang itu lagi? Bertemu seorang wanita ? ‘’ dan seperti tepat sasaran aku langsung memasang muka garang untuk menutupi rasa maluku.
‘’kalau kau tak mau gajimu dipotong, cepat kembali ke mejamu tanpa banyak bicara ‘’ langsung saja sekertarisku lari kocar-kacir ke tempatnya berasal. Aku hanya  berusaha menahan ketawa melihatnya.
Jariku tak mau diam mengetuk-ngetuk meja. Mataku tak henti-hentinya memandang jam dinding yang melajukan jarum detiknyaa seperti putri solo. Kakiku juga mulai berhentak-hentak tak karuan di bawah. Untung aku memiliki ruang istimewa ketimbang ruangan karyawan lain, sehingga tak ada pertanyaan konyol yang harus ku jawab berulang kali.
Aku berulang kali menata rambutku yang sebenarnya sudah tak perlu dirapikan. Sadar akan tingkahku yang berlebih, akhirnya aku duduk di kursi sambil menatap lekat jam dinding. Dan bingo ! waktu pulang kantor!
                Aku langsung mengambil jas beserta dokumen-dokumen pentingku. Saking bahagianya sampai aku tak sadar kalau aku berlari saat keluar ruang. Saat aku berhenti sejenak, ternyata banyak mata yang sudah menatapku heran sekarang. Masa bodo dengan mereka, karena tak sabar aku memilih untuk menuruni anak tangga.
Setelah 45 menit mengendarai mobil, kini aku telah sampai di padang itu. disana tak ada siapapun. Setengah jam aku telah menunggu, tak ada seorangpun yang datang. Aku mulai cemas, berulang kali aku menoleh ketika ada suara, tapi itu hanya suara tlakson kendaraan yang lewat di jalan raya.
“marks!” lengkingan suara cempreng khas membuat jantungku siap mencelos. Aku menoleh ke sumber suara.
Dan benar dengan tebakanku. Suara itu suara milik si bunga berduri rose . dia berlari dengan tergopoh kearahku. Dia berhenti didepanku sambil terengah-engah.
‘’maaf marks, sepertinya hari ini batal saja. Kau bisa merencanakannya lain waktu.  Hari ini aku tak ingin melewatkan moment sebentar lagi.” Katanya masih sambil mengambil nafas.
“moment?” dengan wajah masih sedikit kecewa
“ahh, untung kau kesini senja. Kau mau menemaniku disini?” tanyanya sambil melihat matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
“memang aku tak mengganggu?” tanyaku mengingat kalau ini adalah momennya bukan diriku.
Rose hanya mengangguk dan langsung duduk . merasa aku mendapat persetujuan aku berinisiatif untuk duduk disebelahnya.
Rose mandekap badannya sendiri. birfikir kalau ia sedang kedinginan, ku sampirkan jas kasmirku pada pundaknya.
“thanks” katanya sambil tersenyum lembut.
“ jadi apa yang membuatmu untuk membatalkan janji malam ini?” tanyaku  padanya to the point.
“apa kau tahu nama padang rumput ini?” tanyanya sambil menerawang entah kemana.
Aku hanya menggeleng. Karena memang jujur aku tak pernah mencari tahu akan tempat ini.
‘’kau tahu bintang ? apa kau percaya bahwa mereka akan membuatmu mendapatkan harapanmu ? ‘’ia menoleh kepadaku
‘’dari raut wajahmu kurasa kau tak percaya. Tapi bagi orang-orang sepertiku itu sebuah kepercayaan yang sangat kuat. Dan kini salah satu harapanku telah dikabulkan.”  Aku mencoba untuk menangkap makna dari perkataannya.
“lalu apa hubungannya dengan padang rumput ini?” tanyaku tak tahu maksud perkataannya.
“bintang. Subuah harapan. Keyakinan. Itulah tempat ini. Suatu padang rumput yang kami panggil sebagai padang bintang. Dimana harapanmu akan tercapai apabila kau yakin akan suatu keajaiban. ‘’ teranya padaku.
‘’lalu apa harapanmu yang sudah terkabul ?’’
‘’aku seperti memiliki seseorang yang bisa kujadikan sandaran disisa hidupku.’’
‘’haha sial sekali orang itu bertemu wanita sepertimu. Siapa memang ?’’ aku mencoba untuk lebih santai. Apa aku tak sanggup menerima kenyataan kalau rose telah memilih orang lain ?
Rose tak menjawab pertanyaanku barusan. Dia kembali ke kegiatannya menatap langit yang sudah gelap dari tadi. ‘’ahh lihat itu’’ katanya sambil menunjuk-nunjuk langit.
Aku pun melihat kearah dia menunjukkan. Di langit beberapa cahaya  seperti jatuh kesuatu tempat. Lama-kelamaan jumlah cahaya yang jatuh menjadi banyak. Mulutku sedikit terbuka karena terpukau dengan ini. Bintang jatuh, kini aku mengerti alasannya menolak ajakanku tadi.
‘’kau sangat menyukai bintang ? ‘’ tanyaku pada rose ketika ia begitu terpukau dengan bintang-bintang yang jatuh itu.
‘’menurutmu ? lalu kau sangat menyukai langit ?’’tanyanya balik kepadaku.
‘’tak ada yang bisa mendekap bintang-bintang kecuali langit diatas kita. ‘’ kataku sambil terus memandangi bintang jatuh.
‘’ tak mungkin selamanya. suatu saat bintang-bintang itu akan jatuh satu persatu dan memadamkan cahaya. ‘’ aku reflek menatapnya.
Hening beberapa saat.
‘’marks, bagaimana aku dimatamu ? ‘’ tanya rose membuatku kaget
Aku langsung menatap rose. Dan kuhembuskan nafasku “hemm, sepertinya aku sudah tak bisa menutupinya. Kau seseorang yang bisa membuatku untuk berubah pandangan dan…” aku berhenti sejenak. “kuharap kau orang terakhir yang akan menjadi bagian hidupku.” Aku menatap dirinya yang tetap terasa bersinar meski dibalut gelapnya malam.
Saat itu kurasa rose menagis. Nafasnya seperti tersenggal senggal karena tangisannya. Aku berinisiatif untuk memeluknya saat itu.
“nikahilah aku sekarang” katanya masih dalam tangisan.
Aku membeku seketika. Mungkin aku memang mencintai rose tapi aku masih belum cocok untuk status menikah di kartu tanda pengenalku.
“rosella, aku tahu aku mencintaimu, dan kurasa kau juga begitu. Tapi maaf, untuk menikah..’’ sempat aku berhenti sebentar ‘’kurasa kita bisa membicarakannya kalau sudah menjalani hubungan yang lebih sederhana dulu.’’ Kataku pelan padanya.
‘’ahhh aku sudah menebak akan itu. Tapi aku tak bisa menunggu, aku tak punya waktu banyak marks. Kalau itu pilihanmu, kita akhiri saja kenangan kita beberapa hari ini. ‘’katanya sambil menghapus air mata yang menggenangi matanya.
‘’rose’’ aku mencengkram tangannya ‘’gila !apa kita tidak bisa mejalaninya dahulu ?’’ aku tak bisa terima dengan kata-kata berpisah.
‘’lepaskan. maaf marks, aku memang wanita gila yang hanya menginginkan ikatan suci pernikahan” suaranya mulai melirih.
Apa-apaan  anak ini !‘’ baiklah itu maumu. Aku juga pria gila yang tidak ingin terburu-buru ! kalau kau ingin kita berpisah, aku akan menurutimmu !’’kataku membentak lalu pergi.
Terdengar suara rose dengan sisa-sisa energinya ‘’marks ! jangan pernah melihat masa lalumu!’’ setelah itu aku mendengar isakan rose yang sangat menyayat hatiku. Tetapi aku sudah memutuskan untuk tidak menemuinya kembali.
***
                Sebulan sudah markus tidak mendatangi padang bintang lagi. Tempat yang awalnya menjadi tempat tedamai kini menjadi tempat yang sangat menyakitkan karena komitmennya yang belum terbentuk saat itu.pernah ia melewati padang itu di senja, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan dari  wanita yang membuatnya seperti seorang pecundang. Dalam hatinya ia sangat ingin menemui bunga yang cepat menyayat jarinya itu.
                Hari ini marks akan rapat dengan kliennya di salah satu cafe di dekat well hospital. Tak perlu mengenakan pakaian formal, karena kliennya adalah teman masa kuliahnya dulu di amerika. Sebenarnya istilah rapat hanya sekedar kedok untuk mencari waktu luang di jam kerja.
“hey yo, brian! Apa kabar?!” sapa markus meninggalkan wajah ganas posisinya.
“marks! Tak ada kabar! Hahaha”  mereka terbahak bersama.
                mereka saling tertawa dan berbagi cerita bersama. Mulai bernostalgia kehidupan mereka saat menjadi murid populer di kampus mereka dulu sampai menceritakan kesuksesan mereka sekarang menjadi di dunia fashion dan bisnis. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan sehingga tak heran mereka begitu dekat.
Tak sengaja bola mata markus menangkap sileut seoarang wanita yang sangat ia rindukan sekarang berjalan melewati kafe. Bertubuh mungil , tak salah lagi itu adalah rose. Rose kelihatan mengenakan kupluk menutupi rambutnya dan swetter biru marine. Reflek markus langsung berlari mencari wanita itu. Brian yang ikut-ikutan  latah refleks  memanggil markus tapi sayang tidak digubris olehnya.
Markus berlari kemana kedua kaki miliknya sebagai penuntun. Ia sudah bolak balik dan memasang muka kehilangan seperti anak yang terpisah oleh ibunya sendiri.  nihil, ia tak bisa mengejar wanita itu sama sekali.  Mark hanya bisa menggerang dan menendang udara tak berdosa dihadapannya.
Seminggu setelah kejadian itu, marks memantapkan diri untuk mendatangi padang bintang kembali. Seperti dahulu, ia datang saat senja telah tiba. Ia menunggu , menunggu, terus menunggu, dua hari ia telah  menunggu rose dari senja sampai malam.tak ada yang datang sama sekali. Kadang saat ia menunggu pun ia juga sempat membayangkan apabila ia menerima permintaan rose untuk menikah dengannya dahulu. Mungkin kini aku telah bersamanya sepanjang hari pikir marks.
Hari ketiga ia ke padang bintang. Ia menunggu kembali.  Tiba-tiba terdengar suara teriakan mengagetkannya.  Sayang, teriakan itu bukan dari seorang yang ia tunggu tetapi dari seorang laki-laki anak berumur sekitar delapan tahun. Ia berlari girang kea rahnya.
“kakak, yang dulu biasa bareng kaka rose kan?” Tanya anak itu dengan lugu.
Marks membungkukkan badannya sehingga wajahnya tidak terlalu jauh dari muka anak itu. “hemm, iya jagoan” ucap mark sambil mengusap kepala anak itu.
“kakak rose nitip ini buat kakak.”kata anak itu sambil menyodorkan sepucuk kertas pada marks.
Tak lama kemudian seorang ibu berlari ke arah mereka. Lalu ia memeluk anak kecil tadi .
“maaf, anak saya tidak sopan. anda kenalan rose?” Tanya ibu-ibu itu.
“taka pa. iya.” Jawabku singkat.
“hemm, apa anda tahu kalau rose telah meninggal dunia lusa yang lalu? Dia baru diketahui terkena kanker empat bulan lalu, tapi sayang, ketika sudah terdiagnosa ia sudah berada di stadium tak tertolong.”jelas ibu itu.”ah, sepertinya sudah waktunya untuk makan malam, saya harus pulang untuk makan bersama keluarga saya.” Marks mencoba mengembangkan seulas senyum  pada ibu tadi dan lalu ia ditinggalkan sendiri disana.
Badan marks lemas seketika. Berita tentang orang yang baru ia cari saat ini sudah tak berada di alamnya lagi. Harapan terbesar wanita malang itu yang harusnya dibantu untuk diwujudkan malah ia tolak. Saking terpukulnya ia tak kuasa berdiri dan akhirnya jatuh terduduk di tempatnya itu.
Kini marks baru terbayang setiap kata-kata rose. Dan penyesalan akan tidak menyadari suatu hal telah terjadi memperpuruk keadaan hati marks saat ini. Dalam senja ini tak ada lagi si pengocceh yang selalu didengar olehnya. Dalam senja ini hanya ada kepiluan atas kepergiannya.

***
Sebuah nisan batu  terlihat dengan patrian baru telah dikelilingi oleh lebatnya ilalang. Bukannya tidak diurus tapi memang sengaja ditumbuhkan disekitarnya. Seorang pria berjas hitam berdiri didepannya sambil membawa sebuket bunga lili,  mungkin bunga itu disenangi seseorang yang bersemayam di kubur itu dahulu. Didepan makam itu, pria tadi memaksakan seulas senyuman yang terasa sangat menyakitkan menjadi benteng rasa pilunya.
“bodoh. Aku tak akan meninggalkanmu hanya karna aku nanti terluka.” Beberapa saat kemudian pria itu meneteskan sebutir air mata.
Ya, pria itu adalah markus. Seseorang yang dulunya menjadi pujaan hati wanita yang bersemayam dalam kubur itu. Secarik kertas yang terakhir yang diberikan padanya merupakan bukti kenangan pertemuan singkat mereka..
Isi surat yang marks terima dari anak kecil itu mungkin hanya beberapa pengal kata-kata terakhir dari rose yang akan marks simpan seummur hidupnnya.
***
To : markus
Apa kabarmu hey pria yang suka melamun? Pasti kau sehat. Maaf aku tidak memberitahumu tentang semua hal yang ada dihidupku. Maaf juga kalau aku meninggalkanmu dengan tiba-tiba dengan masalah kita yang terkhir. Awal aku tak berfikir untuk mencintaimu, tapi rasa ini tak terasa semakin kurasakan ketika aku bertemu denganmu. Terima kasih kau telah mengisi di sisa hari-hariku yang singkat ini. Meski kita baru bertemu aku bersyukur sebelum aku pergi aku telah membuat pandangan dinginmu menjadi sedikit hangat. Ku harap kau tak akan terpaku pada masa lalu karena aku tak ingin menjadi duri dalam kenanganmu. Kuharap kau akan mendapat wanita yang lebih baik dariku. Aku ingin membacakan ini dihadapanmu

Cintaku seperti bunga mawar merah
Mungkin indah sekarang
Tetapi duri tajamku akan menyakitimu
Cintaku seperti bunga mawar merah
Ya, aku mungkin harum
Tetapi semakin kamu mendekat,semakin aku akan menyakitimu
Jangan cintai aku
Kamu belum tahu aku dengan baik
Pergilah
Jangan datang padaku

Tak mau menyakitimu

rosella
 









The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar