Tittle : Starry Land
Author : Apriani K
Genre : drama , angst , sad
Kejauhan, seorang pria terlihat
menggeletakkan tubuhnya di tengah hamparan ilalang. Mata coklat eboninya
menatap kosong langit senja diatasnya. Angin yang berhembus dingin menusuk
tulang tak digubris olehnya. Kemeja tipis kantor yang dipakai menandakan ia
baru pulang dari pekerjaannya. nyaanyian jangkrik mulai nyaring bertanda malam
akan datang. Pria itupun berdiri dan pergi dari tempatnya.
Sosok
pria itu bisa dibilang tampan dan dapat membuat kaum hawa menggilainya. Tak
heran kalau dia menjadi bahan gosip di dunia kerjanya. Ditambah prestasi karirnya dan latar belakang
kedua orangtuanya dia mungkin mampu membuat wanita manapun dengan mudah menjadi
kekasihnya. Tapi air mukanya tidak pernah memperlihatkan akan ketertarikan pada lawan jenis
setelah suatu kejadian.
Sebut saja pria itu dengan nama Markus.
Dia seorang general manager suatu perusahaan fashion ternama di negeri ini.
Keahlian dalam dunia perbisnisan di umurnya yang masih dua puluh lima tahun
membuatnya mendapat banyak pujian. Dengan wajah bak seorang pangeran tak ayal
membuatnya menjadi popular diantara gadis-gadis pula.
Sebulan sudah ia Nampak mengunjungi
suatu padang rumput yang tak jauh dari hirup pikuk kota tempatnya hidup. Disana
ia hanya terlihat datang, melamun, dan pergi. Entah apa yang membuatnya Nampak seperti
orang putus asa disana dengan memandangi langit senja. Tanpa disadari ,sepasang
manik bola mata memperhatikannya dari kejauhan.
***
Seperti kebiasaannya akhir-akhir ini
setelah bekerja mark menghampiri padang tempat dia biasa menghabiskan waktu
senja. Dia memacu Ferrari hitamnya di tol menuju tempat terdamai yang pernah ia
temukan.
Hari ini berbeda dengan hari-hari
sebelumnya, ketika ia sampai telah duduk sesososk wanita dengan dress putih di
padang itu. Sadar akan ada pengunjung lain yang datang,perempuan itu
menoleh. Perempuan itu mengembangkan
senyuman dan melambaikan tangan bertanda menyuruh seseorang untuk mendekat.
Mark melihat sekeliling, dan hanya dialah manusia yang terlihat. Dengan langkah
ragu mark mendekati wanita itu.
“duduklah kalau kau memang
ingin” sambil menepuk tempat
disebelahnya.
Tanpa mengucapkan
sepatah kata mark langsung duduk disamping perempuan itu. Keduanya tidak saling
bicara karena mereka terlihat sibuk dengan pikirannya yang melayang jauh dari
tempat mereka.
Mark mempertikan
perempuan itu, tubuhnya mungil dengan kulit putih pucat seperti jarang terkena
sinar matahari. Rambut hitam wanita itu dikucir kesamping dengan asal,dilengkapi
poni yang terlihat baru saja dipotong wanita itu menambah pesonanya dimata
marks . tataapan kosong dari mata hitam pekat wanita itu menggambarkan suatu
kepolosan pada dirinya. Tanpa sadar mark terus menatap wanita itu yang hanya
diam, diam menatap langit .
Merasa
tak begitu canggung, mark mulai berbaring di sebelah wanita itu. Hening, bukan diam karna canggung melainkan
hening yang benar-benar mereka nikmati . Mereka hanya diam menatap angkasa
sampai tak merasakan matahari sebentar lagi akan berada pada titik baliknya.
“kau tahu , disini aku berdoa untuk
dapat bertemu dengan seorang pangeran yang menaiki kuda putih. Aku berharap dia
akan menghampiriku dan mengajakku untuk datang ke pesta dansa kerajaan. Memang
itu terdengar kekanakan, tapi yang aku inginkan hanya hidup bahagia dengan
seseorang.” Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan isi pikirannya pada mark.
Hening…
“ah maaf , aku tak bermaksud mengoceh.”
Kata perempuan itu dengan muka panic karena mark tak membalas.
“hemm, tak apa.” Berhenti sejenak
“kenapa semua orang sangat menginginkan memiliki kekasih?” Tanya mark tanpa
sadar masih memandang langit senja.
“karena mereka tak ingin
menyia-nyiakan waktu yang diberi tuhan untuk dirinya sendiri” balas perempuan
itu. Perempuan itu lalu berdiri. “maaf kalau mengganggu waktu jam santai dirimu
disini.” Wanita itu berdiri, dan hendak pergi sebelum sebuah tangan menahannya.
“siapa namamu nona?”Tanya mark
langsung pada tujuannya.
“rosella,rosse. Dan?” sambil member
isyarat mata pada mark.
“markus. “ mark tak hentinya
memandangi muka rose. Fikirnya melayang jauh dengan fantasi-fantasi yang lama
telah ia lupakan. Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama ?
“hemm, sebaiknya aku pulang sekarang.
Kalau mau mampir kau boleh ke rumah seberang sana” kata rose sambil menunjuk
sebuah pemukiman diseberang padang itu.
***
Dua minggu sudah aku telah mengenal
wanita itu. Meski pertemuan kami masih singkat tapi aku bisa mendapatkan
gambaran dari jati dirinya. Rose, begitu aku memanggil namanya . seperti
namanya, dia memang tak begitu ramah seperti duri tapi dia begitu indah untuk
kupandang. Dari awal aku mengenalnya, aku sudah mengira bahwa dia memang kurasa
berbeda dengan wanita lainnya.matanya tidak menggambarkan akan nafsu kotor
selayaknya wanita lain.
Wanita dan uang. Keduanya memang suatu
kesatuan bila kau ingin mendapatkannya. Tak ada uang, tak ada kasih sayang.
Mungkin itu prinsip wanita yang sering kuperhatikan disekelilingku. Orang-orang
yang kusayangipun mereka sama saja. Mulai dari mantanku,dia mengatakan tulus
mencintaiku tapi itu hanya topeng ular bunganya seperti ibu tiriku yang
mendekati ayahku hanya karena uang. Pandanganku berubah setelah aku bertemu
dengan rose, wanita yang tak bisa menyembunyikan kepolosannya kepada orang
lain. Kehadirannya di setiap soreku mengingatkanku apabila tak semua wanita
memiliki sifat buruk.
Rencananya hari ini aku akan
mengajaknya untuk diner di café dekat dengan tempat kami bertemu. Bayangan akan
dirinya yang menungguku datang untuk menjemputnya terbesit dipikiranku. Rambut
panjangnya yang terurai terhempas angin, melambai girang karena bebas dari
belenggu ikatan. Aku tak kuasa untuk mengembangkan senyuman ketika
membayangkannya.
“anda sering senyum-senyum sendiri
akhir-akhir ini direktur. Apa ada yang membuat anda bahagia sekali?” tanya si
sekertaris utamaku yang selalu setia mendampingiku bekerja.
“hemm” aku hanya membalas senyum
padanya. Kulihat mukanya Nampak akan meleleh melihat senyumanku ini.
“ahh, anda mesti akan ke padang itu lagi? Bertemu seorang
wanita ? ‘’ dan seperti tepat sasaran aku langsung memasang muka
garang untuk menutupi rasa maluku.
‘’kalau kau tak mau gajimu dipotong,
cepat kembali ke mejamu tanpa banyak bicara ‘’ langsung saja sekertarisku
lari kocar-kacir ke tempatnya berasal. Aku hanya berusaha menahan ketawa melihatnya.
Jariku tak mau diam mengetuk-ngetuk
meja. Mataku tak henti-hentinya memandang jam dinding yang melajukan jarum
detiknyaa seperti putri solo. Kakiku juga mulai berhentak-hentak tak karuan di
bawah. Untung aku memiliki ruang istimewa ketimbang ruangan karyawan lain,
sehingga tak ada pertanyaan konyol yang harus ku jawab berulang kali.
Aku berulang kali menata
rambutku yang sebenarnya sudah tak perlu dirapikan. Sadar akan tingkahku yang
berlebih, akhirnya aku duduk di kursi sambil menatap lekat jam dinding. Dan
bingo ! waktu pulang kantor!
Aku langsung
mengambil jas beserta dokumen-dokumen pentingku. Saking bahagianya sampai aku
tak sadar kalau aku berlari saat keluar ruang. Saat aku berhenti sejenak,
ternyata banyak mata yang sudah menatapku heran sekarang. Masa bodo dengan
mereka, karena tak sabar aku memilih untuk menuruni anak tangga.
Setelah 45 menit mengendarai mobil,
kini aku telah sampai di padang itu. disana tak ada siapapun. Setengah jam aku
telah menunggu, tak ada seorangpun yang datang. Aku mulai cemas, berulang kali
aku menoleh ketika ada suara, tapi itu hanya suara tlakson kendaraan yang lewat
di jalan raya.
“marks!” lengkingan suara cempreng
khas membuat jantungku siap mencelos. Aku menoleh ke sumber suara.
Dan benar dengan tebakanku. Suara itu
suara milik si bunga berduri rose . dia berlari dengan tergopoh kearahku. Dia
berhenti didepanku sambil terengah-engah.
‘’maaf marks, sepertinya hari ini
batal saja. Kau bisa merencanakannya lain waktu. Hari ini aku tak ingin melewatkan moment
sebentar lagi.” Katanya masih sambil mengambil nafas.
“moment?” dengan wajah masih sedikit
kecewa
“ahh, untung kau kesini senja. Kau
mau menemaniku disini?” tanyanya sambil melihat matahari yang sebentar lagi
akan tenggelam.
“memang aku tak mengganggu?” tanyaku
mengingat kalau ini adalah momennya bukan diriku.
Rose hanya mengangguk dan langsung
duduk . merasa aku mendapat persetujuan aku berinisiatif untuk duduk
disebelahnya.
Rose mandekap badannya sendiri.
birfikir kalau ia sedang kedinginan, ku sampirkan jas kasmirku pada pundaknya.
“thanks” katanya sambil tersenyum
lembut.
“ jadi apa yang membuatmu untuk membatalkan
janji malam ini?” tanyaku padanya to the
point.
“apa kau tahu nama padang rumput
ini?” tanyanya sambil menerawang entah kemana.
Aku hanya menggeleng. Karena memang jujur aku tak pernah mencari tahu akan
tempat ini.
‘’kau tahu bintang ? apa kau
percaya bahwa mereka akan membuatmu mendapatkan harapanmu ? ‘’ia
menoleh kepadaku
‘’dari raut wajahmu kurasa kau
tak percaya. Tapi bagi orang-orang sepertiku itu
sebuah kepercayaan yang sangat kuat. Dan kini salah satu harapanku telah
dikabulkan.” Aku mencoba untuk menangkap
makna dari perkataannya.
“lalu apa hubungannya dengan padang
rumput ini?” tanyaku tak tahu maksud perkataannya.
“bintang. Subuah harapan. Keyakinan.
Itulah tempat ini. Suatu padang rumput yang kami
panggil sebagai padang bintang. Dimana harapanmu akan tercapai apabila kau
yakin akan suatu keajaiban. ‘’ teranya padaku.
‘’lalu apa harapanmu yang sudah
terkabul ?’’
‘’aku seperti memiliki seseorang
yang bisa kujadikan sandaran disisa hidupku.’’
‘’haha sial sekali orang itu
bertemu wanita sepertimu. Siapa memang ?’’ aku mencoba untuk lebih santai.
Apa aku tak sanggup menerima kenyataan kalau rose telah memilih orang
lain ?
Rose tak menjawab pertanyaanku
barusan. Dia kembali ke kegiatannya menatap langit yang sudah gelap dari tadi.
‘’ahh lihat itu’’ katanya sambil menunjuk-nunjuk langit.
Aku pun melihat kearah dia
menunjukkan. Di langit beberapa cahaya seperti jatuh kesuatu tempat. Lama-kelamaan
jumlah cahaya yang jatuh menjadi banyak. Mulutku sedikit terbuka karena
terpukau dengan ini. Bintang jatuh, kini aku mengerti alasannya menolak
ajakanku tadi.
‘’kau sangat menyukai
bintang ? ‘’ tanyaku pada rose ketika ia begitu terpukau dengan
bintang-bintang yang jatuh itu.
‘’menurutmu ? lalu kau
sangat menyukai langit ?’’tanyanya balik kepadaku.
‘’tak ada yang bisa mendekap
bintang-bintang kecuali langit diatas kita. ‘’ kataku sambil terus
memandangi bintang jatuh.
‘’ tak mungkin selamanya. suatu
saat bintang-bintang itu akan jatuh satu persatu dan memadamkan cahaya. ‘’
aku reflek menatapnya.
Hening beberapa saat.
‘’marks, bagaimana aku
dimatamu ? ‘’ tanya rose membuatku kaget
Aku langsung menatap rose. Dan
kuhembuskan nafasku “hemm, sepertinya aku sudah tak bisa menutupinya. Kau
seseorang yang bisa membuatku untuk berubah pandangan dan…” aku berhenti
sejenak. “kuharap kau orang terakhir yang akan menjadi bagian hidupku.” Aku
menatap dirinya yang tetap terasa bersinar meski dibalut gelapnya malam.
Saat itu kurasa rose menagis.
Nafasnya seperti tersenggal senggal karena tangisannya. Aku berinisiatif untuk
memeluknya saat itu.
“nikahilah aku sekarang” katanya
masih dalam tangisan.
Aku membeku seketika. Mungkin aku
memang mencintai rose tapi aku masih belum cocok untuk status menikah di kartu
tanda pengenalku.
“rosella, aku tahu aku mencintaimu,
dan kurasa kau juga begitu. Tapi maaf, untuk menikah..’’ sempat aku berhenti
sebentar ‘’kurasa kita bisa membicarakannya kalau sudah menjalani hubungan yang
lebih sederhana dulu.’’ Kataku pelan padanya.
‘’ahhh aku sudah menebak akan
itu. Tapi aku tak bisa menunggu, aku tak punya waktu banyak marks. Kalau itu
pilihanmu, kita akhiri saja kenangan kita beberapa hari ini. ‘’katanya
sambil menghapus air mata yang menggenangi matanya.
‘’rose’’ aku mencengkram
tangannya ‘’gila !apa kita tidak bisa mejalaninya dahulu ?’’ aku tak
bisa terima dengan kata-kata berpisah.
‘’lepaskan. maaf marks, aku
memang wanita gila yang hanya menginginkan ikatan suci pernikahan” suaranya
mulai melirih.
Apa-apaan anak ini !‘’ baiklah itu maumu. Aku juga
pria gila yang tidak ingin terburu-buru ! kalau kau ingin kita berpisah,
aku akan menurutimmu !’’kataku membentak lalu pergi.
Terdengar suara rose dengan sisa-sisa
energinya ‘’marks ! jangan pernah melihat masa lalumu!’’ setelah itu aku
mendengar isakan rose yang sangat menyayat hatiku. Tetapi aku sudah memutuskan
untuk tidak menemuinya kembali.
***
Sebulan
sudah markus tidak mendatangi padang bintang lagi. Tempat yang awalnya menjadi
tempat tedamai kini menjadi tempat yang sangat menyakitkan karena komitmennya
yang belum terbentuk saat itu.pernah ia melewati padang itu di senja, tapi tak
ada tanda-tanda keberadaan dari wanita
yang membuatnya seperti seorang pecundang. Dalam
hatinya ia sangat ingin menemui bunga yang cepat menyayat jarinya itu.
Hari ini marks akan
rapat dengan kliennya di salah satu cafe di dekat well hospital. Tak perlu mengenakan pakaian formal, karena kliennya adalah teman masa kuliahnya dulu di amerika. Sebenarnya
istilah rapat hanya sekedar kedok untuk mencari waktu luang di jam kerja.
“hey yo, brian! Apa kabar?!” sapa
markus meninggalkan wajah ganas posisinya.
“marks! Tak ada kabar! Hahaha” mereka terbahak bersama.
mereka saling
tertawa dan berbagi cerita bersama. Mulai bernostalgia kehidupan mereka saat
menjadi murid populer di kampus mereka dulu sampai menceritakan kesuksesan
mereka sekarang menjadi di dunia fashion dan bisnis. Mereka berdua memiliki
banyak kesamaan sehingga tak heran mereka begitu dekat.
Tak sengaja bola mata markus
menangkap sileut seoarang wanita yang sangat ia rindukan sekarang berjalan
melewati kafe. Bertubuh mungil , tak salah lagi itu adalah rose. Rose kelihatan
mengenakan kupluk menutupi rambutnya dan swetter biru marine. Reflek markus
langsung berlari mencari wanita itu. Brian yang ikut-ikutan latah refleks
memanggil markus tapi sayang tidak digubris olehnya.
Markus berlari kemana kedua kaki
miliknya sebagai penuntun. Ia sudah bolak balik dan memasang muka kehilangan
seperti anak yang terpisah oleh ibunya sendiri.
nihil, ia tak bisa mengejar wanita itu sama sekali. Mark hanya bisa menggerang dan menendang
udara tak berdosa dihadapannya.
Seminggu setelah kejadian itu, marks
memantapkan diri untuk mendatangi padang bintang kembali. Seperti dahulu, ia
datang saat senja telah tiba. Ia menunggu , menunggu, terus menunggu, dua hari
ia telah menunggu rose dari senja sampai
malam.tak ada yang datang sama sekali. Kadang saat ia menunggu pun ia juga sempat
membayangkan apabila ia menerima permintaan rose untuk menikah dengannya dahulu.
Mungkin kini aku telah bersamanya sepanjang hari pikir marks.
Hari ketiga ia ke padang bintang. Ia
menunggu kembali. Tiba-tiba terdengar
suara teriakan mengagetkannya. Sayang,
teriakan itu bukan dari seorang yang ia tunggu tetapi dari seorang laki-laki
anak berumur sekitar delapan tahun. Ia berlari girang kea rahnya.
“kakak, yang dulu biasa bareng kaka
rose kan?” Tanya anak itu dengan lugu.
Marks membungkukkan badannya sehingga
wajahnya tidak terlalu jauh dari muka anak itu. “hemm, iya jagoan” ucap mark
sambil mengusap kepala anak itu.
“kakak rose nitip ini buat
kakak.”kata anak itu sambil menyodorkan sepucuk kertas pada marks.
Tak lama kemudian seorang ibu berlari
ke arah mereka. Lalu ia memeluk anak kecil tadi .
“maaf, anak saya tidak sopan. anda
kenalan rose?” Tanya ibu-ibu itu.
“taka pa. iya.” Jawabku singkat.
“hemm, apa anda tahu kalau rose telah
meninggal dunia lusa yang lalu? Dia baru diketahui terkena kanker empat bulan
lalu, tapi sayang, ketika sudah terdiagnosa ia sudah berada di stadium tak
tertolong.”jelas ibu itu.”ah, sepertinya sudah waktunya untuk makan malam, saya
harus pulang untuk makan bersama keluarga saya.” Marks mencoba mengembangkan seulas senyum
pada ibu tadi dan lalu ia ditinggalkan sendiri disana.
Badan marks lemas seketika. Berita
tentang orang yang baru ia cari saat ini sudah tak berada di alamnya lagi.
Harapan terbesar wanita malang itu yang harusnya dibantu untuk diwujudkan malah
ia tolak. Saking terpukulnya ia tak kuasa
berdiri dan akhirnya jatuh terduduk di tempatnya itu.
Kini marks baru terbayang setiap
kata-kata rose. Dan penyesalan akan tidak menyadari suatu hal telah terjadi
memperpuruk keadaan hati marks saat ini. Dalam senja ini tak ada lagi si pengocceh
yang selalu didengar olehnya. Dalam senja ini hanya ada kepiluan atas
kepergiannya.
***
Sebuah nisan batu terlihat dengan patrian baru telah dikelilingi
oleh lebatnya ilalang. Bukannya tidak diurus tapi memang sengaja ditumbuhkan
disekitarnya. Seorang pria berjas hitam berdiri didepannya sambil membawa
sebuket bunga lili, mungkin bunga itu
disenangi seseorang yang bersemayam di kubur itu dahulu. Didepan makam itu, pria tadi memaksakan seulas senyuman yang terasa
sangat menyakitkan menjadi benteng rasa pilunya.
“bodoh. Aku tak akan meninggalkanmu
hanya karna aku nanti terluka.” Beberapa saat kemudian pria itu meneteskan
sebutir air mata.
Ya, pria itu adalah markus. Seseorang
yang dulunya menjadi pujaan hati wanita yang bersemayam dalam kubur itu.
Secarik kertas yang terakhir yang diberikan padanya merupakan bukti kenangan pertemuan
singkat mereka..
Isi surat yang marks terima dari anak
kecil itu mungkin hanya beberapa pengal kata-kata terakhir dari rose yang akan
marks simpan seummur hidupnnya.
***
To : markus
Apa kabarmu
hey pria yang suka melamun? Pasti kau sehat. Maaf aku tidak memberitahumu
tentang semua hal yang ada dihidupku. Maaf juga kalau aku meninggalkanmu dengan
tiba-tiba dengan masalah kita yang terkhir. Awal aku tak berfikir untuk
mencintaimu, tapi rasa ini tak terasa semakin kurasakan ketika aku bertemu denganmu.
Terima kasih kau telah mengisi di sisa hari-hariku yang singkat ini. Meski kita
baru bertemu aku bersyukur sebelum aku pergi aku telah membuat pandangan
dinginmu menjadi sedikit hangat. Ku harap kau tak akan terpaku pada masa lalu
karena aku tak ingin menjadi duri dalam kenanganmu. Kuharap kau akan mendapat
wanita yang lebih baik dariku. Aku ingin membacakan ini dihadapanmu
Cintaku seperti bunga mawar merah
Mungkin indah sekarang
Tetapi duri tajamku akan menyakitimu
Cintaku seperti bunga mawar merah
Ya, aku mungkin harum
Tetapi semakin kamu mendekat,semakin aku akan menyakitimu
Jangan cintai aku
Kamu belum tahu aku dengan baik
Pergilah
Jangan datang padaku
Tak mau menyakitimu
|
rosella
|
The end

Tidak ada komentar:
Posting Komentar